Baca artikel selengkapnya: Naikkan Standar Kinerja Perusahaan sebelum Dunia Memaksanya
Ada dimensi lain dari penyakit manajerial ini yang sering luput dibicarakan secara terbuka.
Sebagian manajer – terutama yang mendambakan karier panjang dalam perusahaan – perlahan menggeser pusat perhatiannya. Fokus tidak lagi sepenuhnya tertuju pada customer atau nilai yang harus diciptakan bagi stakeholder. Tanpa disadari, fokus itu bergeser pada satu hal yang lebih personal: keberlanjutan karier mereka sendiri.
Perubahan ini jarang muncul sebagai keputusan besar. Ia terlihat dalam banyak keputusan kecil: risiko operasional diminimalkan agar tidak menimbulkan kegagalan yang mencolok; target ditetapkan pada tingkat yang aman; standar layanan dijaga agar tidak menimbulkan tekanan berlebih bagi tim; atau program kerja dipilih yang stabil bagi reputasi manajerial.
Semua terlihat profesional. Namun orientasinya perlahan berubah dari makna keberadaan bisnis yang, menurut Philip Kotler, adalah menciptakan nilai bagi pasar:
- Customer membutuhkan kecepatan.
- Pasar menuntut intensitas.
- Stakeholder mengharapkan imbal hasil atas modal yang mereka tanamkan.
Tetapi ketika pertimbangan utama bergeser pada keamanan karier, keputusan operasional menjadi diam-diam defensif.
Fenomena ini dapat dijelaskan melalui Agency Theory yang diperkenalkan Michael Jensen dan William Meckling pada 1976. Teori tersebut menjelaskan bahwa pemilik bisnis dan manajemen sering memiliki perspektif risiko yang berbeda.
Pemilik modal mencari pertumbuhan nilai.
Manajemen, terutama yang membangun karier panjang di perusahaan, cenderung lebih berhati-hati menjaga stabilitas posisinya.
Perbedaan perspektif ini jarang menimbulkan konflik terbuka. Ia justru muncul dalam bentuk standar yang perlahan diturunkan.
Baca artikel selengkapnya: Naikkan Standar Kinerja Perusahaan sebelum Dunia Memaksanya