Dr John C Maxwell menegaskan prinsip leadership utama yang menjadi fondasi kesuksesan bisnis mana pun:
The Law of the Picture
People do what people see.
Sebagai Business Coach, saya sering menemukan para pemilik bisnis yang heran mengapa timnya tidak pernah bergerak seirama dengan harapan perusahaan.
Jawabannya sederhana dan tegas: Anda menuntut tim Anda bertindak seperti pemenang, sementara Anda sendiri mempertontonkan tindakan yang amat amatir.
Tindakan leadership amatir adalah saat pemimpin hanya mengandalkan instruksinya untuk mengubah kinerja timnya. Instruksi Anda tidak bisa membangun budaya kerja jika perilaku harian Anda bertolak belakang dengan apa yang Anda nasehatkan.
Dr John Maxwell mengatakan bahwa pemimpin hebat tidak pernah hanya memiliki ambisi. Namun, mereka memadukan dua kualitas yang sepintas bertolak belakang namun mutlak harus ada bersamaan: highly visionary (sangat visioner) sekaligus highly practical (sangat praktis).
Dalam membangun bisnis yang kokoh, Anda wajib mendudukkan tiga pilar utama ini secara presisi:
-
Mission (Misi): Memberikan tujuan (purpose) — menjawab pertanyaan Why? (Mengapa bisnis ini ada?).
-
Vision (Visi): Memberikan gambaran (picture) — menjawab pertanyaan What? (Seperti apa wujud masa depan yang ingin dicapai?).
-
Strategy (Strategi): Memberikan rencana (plan) — menjawab pertanyaan How? (Bagaimana cara mengeksekusinya visi itu di tahun ini? Di tahun depan?).
Visi adalah kompas Anda.
Visi memungkinkan seorang pemimpin melihat melampaui kondisi hari ini, mengantisipasi dinamika pasar yang akan datang, dan menentukan tindakan mutlak yang harus diambil. Akan tetapi, visi tanpa eksekusi praktis adalah ilusi yang tidak menghasilkan rupiah apa pun.
Di sinilah letak peran praktis Anda sebagai pemimpin: Anda bertanggung jawab penuh untuk memfasilitasi dan mendorong tim Anda mengambil tindakan nyata (Action), bukan sekadar membiarkan visi tersebut menjadi pajangan indah di ruang rapat.
Vision Gap dan the Law of the Picture
Masalah terbesar dalam bisnis yang sedang berkembang adalah munculnya jurang pemisah (vision gap) antara cara pandang Anda dan cara pandang tim Anda.
Eksekusi sering kali kacau karena tim Anda tidak memiliki sudut pandang seperti yang Anda miliki. Mereka tidak mampu memvisualisasikan masa depan sebagaimana Anda melihatnya, dan mereka sering tidak tahu apa tindakan terbaik demi kepentingan jangka panjang perusahaan. Akibatnya, perusahaan kehilangan fokus pada gambaran besar (big picture).
Mengapa hal ini terjadi? Karena visi memiliki sifat alami yang sangat berbahaya: vision has a tendency to leak – visi itu mudah bocor, menguap, dan memudar dari benak tim seiring berjalannya operasional harian.
Ingatlah, setiap karyawan Anda memiliki keinginan dan goal hidup berbeda-beda – visi Andalah yang bisa menyatukan mereka dalam perusahaan.
Sebagai owner, Anda adalah steward of the vision (penjaga visi). Tugas utama Anda adalah menutup kebocoran tersebut secara terus-menerus. Sayangnya, perangkap terbesar yang sering menjerat para owner adalah kecenderungan untuk HANYA SEKADAR BERKOMUNIKASI (TO MERELY COMMUNICATE).
Mengadakan rapat maraton, membagikan broadcast message berapi-api, atau mencetak slogan mewah di dinding kantor memang penting, tetapi itu semua TIDAK AKAN PERNAH CUKUP.
Komunikasi verbal tanpa teladan tindakan hanya akan dianggap sebagai angin lalu oleh tim Anda.
Untuk menutup kebocoran visi, Anda tidak bisa hanya berbicara tentang visi; Anda harus menghidupi visi itu (live the vision).
Di sinilah prinsip dasar The Law of the Picture diterjemahkan: People do what people see. Tim Anda tidak akan mengeksekusi apa yang Anda katakan; mereka hanya akan meniru apa yang Anda tunjukkan.
People Do What People See
Menjadi contoh (setting example) bukanlah pilihan atau gaya kepemimpinan opsional; itu adalah kewajiban mutlak.
Jika Anda menginginkan tim yang memiliki kedisiplinan tinggi, ketelitian terhadap kualitas, dan keberanian mengambil keputusan, tunjukkan gambaran tersebut secara nyata dalam tindakan harian Anda.
Prinsip The Law of the Picture menegaskan bahwa gambaran visual dari tindakan pemimpin jauh lebih berdampak dibanding puluhan dokumen Standar Operasional Prosedur (SOP).
Ingatlah bahwa dalam filosofi People do what people see, tim Anda berada dalam posisi pengamat abadi. Mereka tidak hanya mengawasi saat Anda memberikan panduan dalam meeting, melainkan saat Anda merespons tekanan, mengelola krisis, dan mengeksekusi janji-janji internal.
Ketika tim menemukan inkonsistensi antara cita-cita bisnis Anda dengan perilaku harian Anda, otoritas kepemimpinan Anda runtuh saat itu juga.
Sumber daya Anda tidak akan mampu menutupi kecanduan Anda pada jalan pintas atau kemalasan. Kebocoran visi hanya bisa ditambal dengan kekuatan keteladanan yang tidak tertandingi.
4 langkah menerapkan The Law of the Picture dalam bisnis Anda
Jika Anda serius ingin membenahi performa bisnis dan tidak ingin investasi waktu dan uang Anda menguap sia-sia, jalankan 4 langkah keteladanan kepemimpinan ini secara langsung:
-
Sadarilah Bahwa Tim Anda Selalu Mengawasi Setiap Perilaku Anda Mereka memperhatikan tindakan benar apa yang Anda promosikan secara konsisten (what action you promote rightly), dan yang jauh lebih krusial: tindakan salah apa yang Anda toleransi (what action you tolerate wrongly). Jika Anda membiarkan seorang manajer melanggar aturan integritas hanya karena dia menghasilkan angka penjualan tinggi, Anda sedang menegaskan kepada seluruh perusahaan bahwa nilai-nilai bisnis Anda bisa dibeli. Apa pun yang Anda toleransi secara salah, itulah standar budaya kerja perusahaan Anda yang sebenarnya.
-
Pahami Bahwa Mengucapkan Hal Benar Lebih Mudah Daripada Melakukannya Berkata-kata manis tentang profesionalisme dari balik meja direksi Anda sangatlah mudah. Namun, melakukan hal yang benar saat situasi sulit membutuhkan keberanian dan disiplin baja. Biarkan tim Anda melihat the picture yang sebenarnya tentang apa yang Anda yakini dan ingin Anda bangun. Jangan menuntut tim untuk berhemat dan efisien jika Anda sendiri menghamburkan anggaran perusahaan untuk kegiatan marketing yang tidak jelas apa dampaknya, sebagai contoh. Tunjukkan gambaran ideal itu lewat perilaku Anda terlebih dahulu.
-
Kerjakan Perubahan Pada Diri Anda Sendiri Sebelum Menuntut Perubahan Tim. Banyak owner yang saya temui selalu sibuk menyalahkan kompetensi atau mentalitas anak buahnya tanpa pernah mau bercermin. Sebelum Anda berupaya mengubah atau memperbaiki orang lain (work on changing ourselves before trying to improve others), selesaikan dulu pembenahan pada diri Anda sendiri. Standar keunggulan (standard of excellence) bisnis Anda tidak diukur dari seberapa keras Anda berteriak di rapat evaluasi, melainkan dari seberapa gigih Anda menjaga standar tersebut di tim Anda tanpa kompromi.
-
Audit Inkonsistensi Diri Anda Lewat Pihak Ketiga yang Tepercaya. Setiap owner memiliki blind spot (titik buta) atas perilakunya sendiri. Minta seorang rekan tepercaya atau Business Coach Anda untuk mengamati dan mengevaluasi perilaku kepemimpinan Anda secara intensif selama minimal satu minggu penuh. Tugaskan dia untuk mencatat setiap inkonsistensi antara apa yang Anda inginkan/ katakan dengan apa yang sebenarnya Anda lakukan atau apa yang Anda biarkan terjadi di lapangan (what you allow to be done). Terima hasilnya tanpa membela diri, dan lakukan perbaikan seketika.
Bisnis Anda adalah cermin sempurna dari siapa diri Anda sebagai pemimpin. Jangan pernah berharap tim Anda bekerja dengan standar kelas dunia jika Anda masih memelihara standar kepemimpinan yang ganda dan lambat. Tunjukkan gambarannya, berikan contohnya, dan saksikan bagaimana bisnis Anda bertumbuh bukan karena kata-kata Anda, melainkan karena kekuatan tindakan yang dilihat oleh tim Anda setiap hari.

Prinsip The Law of the Picture
Dr John C Maxwell
The 21 Irrefutable Laws of Leadership