Tipping Point: 6 Fakta Tipping Point yang Penting untuk Bisnis Anda

Tipping point berarti sebuah titik paling menentukan dalam sebuah situasi, proses atau kehidupan. Di titik itulah perubahan yang signifikan dan seringkali tidak bisa dihentikan untuk terjadi (unstoppable).

tipping point featured image

Dan semua orang memiliki tipping point.

Akan ada sebuah titik yang membuat kehidupan orang tersebut berubah mendadak dan dampaknya cukup dahsyat terhadap kehidupannya.


Ide-bisnis.com merangkum beberapa fakta untuk membantu Anda memahami apa itu tipping point:

  1. Bersifat positif
  2. Tidak bisa diprediksi, namun bisa dikenali
  3. Tidak hanya satu titik
  4. Dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell
  5. Digunakan dalam marketing
  6. Digunakan dalam leadership transformasi

1. Tipping Point bersifat positif

Tipping point adalah saat Anda mengalami sesuatu yang sangat mendalam, yang mengubah bukan hanya diri Anda, namun juga melahirkan kualitas baru dalam diri Anda untuk bisa keluar dari keadaan negatif yang sedang Anda alami.

Anggaplah titik tersebut bagai kondisi terpuruk. Dalam kondisi terpuruk yang sangat buruk, satu-satunya pilihan adalah ke atas. Menjadi lebih baik. Itu adalah tipping point. Jalan keluar yang hadir dengan banyak manfaat: kejelasan, perasaan berharga dan tindakan menghargai diri.

Dengan kata lain, keputusan untuk melakukan atau mengalami yang lebih buruk dari yang sekarang bukanlah tipping point. Misalnya, melakukan bunuh diri karena stres berat, atau menggelapkan uang perusahaan ratusan juta dari sebelumnya hanya beberapa juta.

 

2. Tipping point tidak bisa diprediksi, namun bisa dikenali

Tipping point tidak bisa diprediksi. Ia bisa dikenali dan dianalisa ketika sudah terjadi. Misalnya, banyak kejadian-kejadian buruk saat Anda berada dalam pekerjaan yang menyebalkan – namun ada satu titik yang mengubah Anda menjadi pengusaha sukses di saat ini.

Atau ada banyak stres yang Anda alami dalam membangun bisnis: bisnis yang sepi, biaya yang membengkak, karyawan yang sukar diatur, dan tantangan-tantangan lain. Anda hampir menyerah. Tapi, ada satu titik yang membuat Anda bangkit. Dan fast-forward Anda sudah berada di kondisi positif sukses saat ini.

Tidak ada yang bisa memprediksi kejadian buruk atau stres mana yang menjadi tipping point Anda.

Yang pasti, ia muncul sebagai akibat dari keputusan Anda mengabaikan ketukan nurani secara terus menerus. Pada sebuah titik final, Anda diberkati atau diberikan hidayah atau momen kejelasan, sehingga Anda tidak lagi keras kepala.

11-2021 tipping point critical mass

Image courtesy of Emmott on Technology

Di titik itulah Anda menjadi sadar dan yakin, bahwa Anda tidak memiliki pilihan lain selain melakukan hal-hal secara berbeda. Dan setelah semuanya terjadi dan Anda menoleh ke belakang, barulah Anda bisa mengenali titik tersebut.

 

3. Tidak hanya satu titik

Tipping point bukanlah pencarian senjata pamungkas. Terkadang titiknya tidak hanya satu. Ia bisa merupakan perpotongan dari berbagai garis kehidupan orang lain, misalnya. Dan garis-garis itu sukar dikendalikan karena acak dan didorong motivasi yang sifatnya spiritual, material dan personal.

Sebagai contoh, pengusaha yang sangat sembarangan dalam berbisnis. Ia mengalami masalah fotokopi (baca: berulang) terus menerus dalam bisnisnya. Dalam pandemi Covid-19 ini, bisnisnya seperti rumah yang dibangun di atas pasir. Hancur berantakan walau ia mencoba menutupi kenyataan.

Ia mengalami tipping point (#1) bukan hanya karena kondisi terpuruk, tapi juga karena titik-titik lain:

  • Ia mengenal tujuan berbisnis saat bersinggungan tipping point dengan Business Coach.
  • Ia tidak lagi “diselamatkan” oleh keluarganya dari sisi modal. Ini adalah tipping point ketiga.
  • Istrinya keluar dari rumah membawa anak-anaknya, karena capek hati menasehati dan tidak digubris. Ini adalah tipping point keempat.

Kombinasi titik-titik seperti itu bisa terjadi, dan mengunci kesempatan kita dari sifat menyalahkan orang lain, membuat alasan maupun menyangkali keadaan.

 

4. Dipopulerkan oleh Malcolm Gladwell

11-2021 Malcolm Gladwell

Tahun 2000, Malcolm Gladwell menuliskan buku The Tipping Point: How Little Things Can Make a Big Difference. Ia mengupas tipping point dan kaitannya dengan tren dalam masyarakat. Misalnya, mengapa pernak-pernik fashion tertentu tiba-tiba jadi tren? Atau mengapa sebuah acara televisi mendadak terkenal, padahal ada acara lain yang lebih berkualitas malah dihentikan.

Gladwell memaparkan ada tiga karakteristik tipping point:

  1. menular – saat mencapai titik itu, hal-hal lain dalam kehidupan ikut tertular akibat keputusan positif Anda di titik tersebut.
  2. penyebab yang kecil – perubahan itu seringkali terjadi karena hal-hal kecil. Namun hal-hal kecil ini bisa membuat perbedaan besar.
  3. dramatis – perubahan dramatis yang mengubah jalan hidup, dan terjadi sekaligus. Ini serupa dengan efek bola salju dari puncak bukit.

Bila Anda tertarik dengan buku ini, silahkan memesan di sini.

Menariknya, konsep ini juga bermanfaat bagi upaya marketing.

 

5. Digunakan dalam Marketing

Mengalami tipping point itu serupa dengan mengalami momentum baru. Dan hal tersebut sangat dinantikan dalam dunia bisnis, khususnya marketing.

Bayangkan produk atau jasa Anda yang selama ini hanya dibeli oleh customer yang itu-itu saja, mendadak mendapatkan momentumnya dan viral.

Untuk itu, Anda perlu membaca bab II dari buku Malcolm Gladwell yang saya sebutkan di atas. Judul babnya The Law of the Few. Di sana Anda akan menemukan ada tiga jenis orang yang perlu Anda libatkan dalam upaya marketing:

  • Mavens atau orang yang serba tahu merupakan pusat dari semua episentrum ini. Sebagai orang yang dapat dipercaya dan mengetahui banyak hal, apapun informasi yang keluar dari Mavens biasanya akan diamini oleh banyak orang nyaris tanpa berpikir lagi.
  • Salesman sebagai pihak yang akan “menjual” semua ide dan informasi ini ke tengah masyarakat. Seperti layaknya corong yang bersuara keras dan langsung berhubungan dengan pendengar.
  • Connector atau penghubung adalah pihak yang menghubungkan antara Maven dengan Salesman sehingga informasi bisa sesegera mungkin tersampaikan kepada masyarakat dengan baik.

Baik mavens, salesman, atau connector bisa berupa siapa saja. Bisa dari dalam perusahaan, bisa berupa customer yang berpengaruh, atau bisa menggunakan endorser.

 

6. Digunakan dalam Leadership

Bila ingin perusahaan Anda bertransformasi kepada tatakelola yang lebih baik, Anda memerlukan tipping point untuk mendukung visi tersebut. Ini sangat penting apalagi bila Anda adalah direktur baru atau generasi kedua dalam bisnis keluarga yang mulai mengambil alih peranan orangtua.

Sebagai contoh adalah bila Anda ingin perusahaan Anda berpindah dari konsep tradisional kepada tatakelola yang lebih profesional. Melibatkan berbagai tipping point dari seluruh jajaran perusahaan diperlukan untuk mendukung aspirasi Anda tersebut. Dan beberapa pertanyaan ini bisa membantu Anda bisa melakukannya:

  • Jumlah. Berapa persen dari jumlah karyawan yang perlu saya libatkan dalam transformasi ini? Berapa banyak yang perlu saya berikan training agar bisa menularkan semangat dan budaya profesionalisme dalam perusahaan? Dari pengalaman saya, setidaknya Anda perlu menargetkan 10% dari total karyawan di tiap departemen – dan mereka adalah karyawan yang berpengaruh terhadap karyawan lainnya.
  • Lama. Berapa lama inisiatif transformasi profesionalisme ini perlu berlangsung? Pendekatan neuroscience (biologi otak dan psikologi) mempercayai dibutuhkan sekitar 6-9 bulan pelatihan untuk sukses membangun momentum profesionalisme. Bila tidak, termasuk bila hanya melakukan training leadership 1 hari, adalah karyawan kembali ke etos kerja yang lama.
  • Kecepatan. Seberapa cepat saya perlu memprakarsai transformasi ini? Jawabannya: lebih cepat adalah lebih baik dalam pelaksanaan program transformasi leadership. Melakukan program leadership yang cepat (baca: intensif) lintas departemen akan menjadi daya tarik seperti grativasi – yang akan menggeser cara pikir dan bekerja yang lama.

 

Mengaplikasikan tipping point dalam kehidupan dan bisnis kita

Kondisi apa pun yang sedang alami saat ini, Anda bisa mengalami tipping point. Saat bisnis dan kehidupan sedang terpuruk, Anda bisa bangkit dan meraihnya. Anda hanya perlu mendengarkan ketukan pada nurani Anda, yang membuat Anda menjadi jelas tentang apa yang perlu dilakukan.

Anda juga bisa menggunakan konsep tipping point dalam pendekatan marketing di bisnis Anda, maupun upaya transformasi leadership dalam perusahaan.

Artikel terkait

Updated 09 Nov 2021

Coach Danny is a John Maxwell Team Coach, Speaker and Trainer.